Showing posts with label money. Show all posts
Showing posts with label money. Show all posts

Monday, September 30, 2013

Badai Kerisauan Hati

"Pulsa UTAMA Rp 3222. Aktif 15/12/13, Tenggang 14/01/14. 
*678*80*1# apa sih Vickynisasi?"

"...
- Pulsa Utama: Rp 2959
- Bonus Umum: Rp 0
- Bonus sesama: Rp 0
Total pulsa: Rp 2959 berlaku 07-DEC-2013..."

"Sisa pulsa Anda Rp 0. Penggunaan pulsa di periode ini Rp 0. Akhir periode 01/10/2013...."

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Wahai teman-temanku yang luar biasa, kita tahu kalau hidup itu keras T_T

Saturday, March 16, 2013

Ya Pasrah Ajaaa

"Sebuah gadget canggih gak rempong itu sangat dibutuhkan oleh seorang kambing congek kayak gw.
Tapi gimanalah ya. Duit gak jatoh dari dubur geh."

Thursday, February 14, 2013

Tohokan Pagi-Pagi

Ternyata budget cooling pad itu IDR 250.000,00. Dan mustahil gaming mouse itu dihargai di bawah IDR 100.000,00.

Oh duit. Turunlah dari langit kenapa?

Monday, February 4, 2013

Naaah...

Gw : ...servis mesin, ganti oli, rem depan-belakang, sama rantai. Terus, ini kepalanya goyang.

Dia : Kalo komstirnya cacat, ganti baru aja ya?

Gw : (diem)

Dia : Kalo dikencengin, beloknya berat nanti. Tapi kalo gak, ntar goyang-goyang. 
Ya udah, ntar diliat aja dulu ya.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Wah, agaknya kurang ini narik dananya XD

"Makan-Makan"

Dan temen-temen gw pada demen bener memplot seseorang yang sedang ultah untuk traktir makan-makan. Padahal lagi gak ada duit beud. Semampunya gw saat ini paling beliin kalian Momogi Jagung Bakar satu-satu -_-

Sunday, February 3, 2013

Dan Ia Memanggil-Manggil...

Pada pencairan beasiswa tahap I semester depan :
  1. SPP @IDR 1.250.000,00.
  2. Dana KP @IDR 500.000,00.
  3. Dana diklat @IDR 350.000,00.
  4. Mouse USB @IDR 100.000,00.
  5. Cooling Pad @IDR 200.000,00.
  6. Baju PDH @IDR 90.000,00.
  7. Jaket TUX + ongkir @IDR 200.000,00. Ciyus, yang terakhir ini bener-bener gak gak gak kuat iman gw menahannya.
Jadi, budget foya-foya-nya sebesar IDR 710.000,00. Agh, sulit.

Thursday, March 1, 2012

Pada Suatu Siang di Sebuah ATM

Seorang anak perempuan menyapa gw dengan muka melas,"Mbak, mau beli gorengan gak?"

Gw teringat dengan seplastik besar gorengan di rumah teman yang akan segera gw datangi setelah urusan dengan ATM ini terselesaikan. Seperti yang sudah kalian kira, opsi yang tersedia untuk gw hanya menolak,"Wah, gak dek."

Lalu, ia berkata lagi,"Beli sih mbak, buat beli buku."

Radar kejujuran gw menganalisis situasi dalam rentang kecepatan cahaya :
  1. Jika dia ini anak dugem yang sedang cekak buat foya-foya atau kehabisan fulus untuk "ngobat", dia gak akan berpikir untuk jualan. Kalaupun mau tetep berdagang, dia gak bakal milih "barang yang gak level dengan gw" seperti gorengan karena untungnya kecil dan proses produksinya ribet.
  2. Style pakaian yang dia kenakan setara dengan gw ; bahkan gw lebih ketinggalan jaman sepertinya karena sepatunya mengikuti trend masa kini. Secara visual, dia sudah tampil apa adanya. Maksud gw, kalaupun dia pengen menyihir semua orang sehingga kasian sama dia, sekalian aja dia pake setelan lusuh ala kaum miskin plus sendal jepit. Iya kan?
  3. Yah, masih berhubungan dengan poin di atas, gw juga kagak tahu kalau, misalkan ya, ternyata dia make baju bagus untuk langsung capcus ke CP setelah mendapatkan harta yang cukup. Tapi, sekali lagi, emang segede apa sih laba dari gorengan itu sampe lo bisa hura-hura??? Bukannya, kalau niat awalnya cuma mendulang uang yang banyak, saran yang gw paparkan di nomor (2) akan lebih efektif?

Oke. Pertahanan hati gw hancur. Entah apakah dia adalah manusia yang bener-bener butuh pertolongan atau siswi SMK yang lagi praktek marketing, yang jelas, DIA BUTUH DUIT. Gw juga gak punya alasan untuk gak ngebantu karena setidaknya dia sudah usaha. Di mata gw, dia lebih terhormat daripada ibu-ibu yang dateng dengan mangkok kosong sambil ngerengek-rengek,"Mbaak, belum makan mbaaaak." Apalagi, tekstur fasial serta kulitnya yang item kesengat matahari itu membawa-bawa memori tentang adek gw di rumah ke dalam kepala gw. Ditambah dengan wajah memohon-nya yang menyedihkan, gw pun miris.

Maka, respon yang gw lakukan adalah menghibahkan uang Rp10.000,- dari kantong gw kepadanya, sambil berargumen,"Buat kamu aja. Kalau saya beli, ntar sayang gorengannya gak ke-makan."

Sialnya, kehidupan nyata tidak seperti sinetron-sinetron Indonesia, dimana gw dengan tampannya bisa bilang,"Uang sekolah kamu, saya aja yang tanggung ya?" 

Dalam perjalanan pulang, gw menyesal. Menyesal karena gak bisa menolong lebih. Dalam bahasa yang lebih gampang, menyesal karena GW BUKAN ORANG KAYA. Serta merta gw me-recall kertas yang gw tulisi dengan 100 impian yang ingin gw raih dan otak gw tertumbuk pada kalimat "My own informal charity foundation". Saat itulah, gw mengutuk diri gw sendiri,'Kenapa yang satu ini tidak mulai gw wujudkan lebih awal?'

Sering gw ngeliat anak-anak kecil yang lagi nawarin koran ke mobil-mobil yang sedang berhenti di lampu merah perempatan. Seketika aja perasaan trenyuh yang berbaur dengan syukur memenuhi rongga dada gw. Di sini gw masih bisa kuliah dengan tenang tanpa harus panas-panasan mengais rezeki seperti mereka. Di sini gw masih bisa pergi ke kampus tanpa harus jalan kaki berkilo-kilo karena gak punya ongkos. Di sini gw masih bisa bermimpi, bahkan jalur untuk mencapai semua target gw itu terbentang lebar di depan gw. Mereka? Mungkin mereka gak punya hasrat lain selain bisa makan dan bertahan hidup. Kalau mikirin itu, gw berasa ditabok. Sesial-sialnya gw yang sudah dapet kursi di suatu fakultas kedokteran namun batal daftar ulang, tetap gw yang lebih beruntung dibandingkan mereka.


Tekad gw goyah. Baru kali itu, ada sesuatu yang mampu merebut kasta "dokter" di hati gw, yaitu "orang kaya". Tiba-tiba gw iri pada segolongan makhluk yang punya mobil. Pada yang punya rumah mewah. Pada yang punya jet pribadi. Pada yang punya aset dan investasi berlimpah. Pada yang punya perusahaan dengan cabang-cabangnya tersebar di seluruh penjuru dunia.

Gw ingin kaya. Sekaya-kayanya gw sehingga gw bisa membantu sebanyak-banyaknya orang yang ingin gw bantu.

Di atas motor, gw smileless. Gw galau, segalau-galaunya galau.

Saturday, September 24, 2011

Kaya itu keharusan kok! -Aa Gym-


Orang yang mengejar harta belum tentu money-oriented

(Harjo Apkuanbo)


"Kamu money-oriented ya?"


"Mau kaya gak?"


"Mau sih."

-----------------------------------------------------------------------------

Hah, kena tohok XD


Sunday, August 28, 2011

Plan B



Gw memang sudah menetapkan akan melepas fakultas kedokteran apapun yang gw dapatkan demi keluarga gw. Apapun itu, mau "Universitas Istimewa" yang selama ini gw kejar-kejar sekalipun. Tapi jauh di dasar hati gw, gw sama sekali gak mau melakukan itu. Nurani gw gak sanggup memutuskan, bahkan membayangkan apakah gw cukup kuat untuk penantian setahun lagi jika kesempatan yang sekarang ini gw lewatkan. Jadi, gw masih berharap akan ada keajaiban. Gw berdoa semoga pertolongan Tuhan datang, memudahkan segalanya.

Tapi konfirmasi siang itu segera mencairkan semua asa yang gw pelihara di hati. Secepat kilat, gw menata batu demi batu untuk membangun benteng bernama ketegaran karena gw mulai merasa gak mampu untuk tidak menangis. Bantal yang basah mengiringi kesadaran gw untuk menerima dengan lapang kalau langkah gw harus tertahan. Gw masih harus bersabar. Lagi.


Sudah seharusnya  pengalaman hari ini dijadikan pelajaran berharga. Gw gak mau mengulangi kejatuhan karena penyebab yang sama. Maka, seperti sebuah solusi, walaupun masih dalam genangan kesedihan, istilah 'Plan B' menyembul keluar : cari harta.



Next : [Untitled]



Wednesday, August 10, 2011

Galau ~Jilid 2

Previous : Galau  ~Jilid 1


Gw gak pernah menyangka kalau atmosfer 2011 ternyata membawa sisa-sisa kebimbangan tahun lalu. Padahal sudah gw putuskan bahwa hati gw ini akan tetap menuruti arus cita-cita, tapi setiap sistem selalu punya sebuah celah keamanan yang tidak bisa di-cover sempurna sehingga memungkinkan pertanyaan-pertanyaan begini menyeruak muncul dan merusak semuanya,'Haruskah gw menjadi seorang dokter?'

Satu keraguan yang membuat keyakinan gw kembali tidak sehat. Gw masih ragu apakah orang tua gw siap secara finansial, bahkan untuk sekedar uang pangkal. Saat itu gw mengambil opsi terburuk : tidak sama sekali. Itulah yang membuat gw hanyut terpuruk dalam kegalauan untuk kedua kalinya. Seperti sebelumnya, di satu sisi, gw gak mau melepaskan cita-cita gw begitu aja ; di lain sisi, gw gak mau mengorbankan keluarga gw demi kepentingan gw. Bagaimanapun juga, obsesif boleh, tapi gw tidak pernah mau bersikap egois.


Gw mencoba untuk teguh. Gw gak mau lagi mencicipi jurang yang sama. Kalaupun sekarang gw sudah terjatuh, secepat mungkin gw harus mencari senter dan menemukan jalan keluar. Hingga akhirnya gw sampai pada keputusan frontal : "jika tidak bisa menumbalkan orang lain, korbankan saja diri sendiri. Egois aja pada diri sendiri!" Awalnya gw sempat takut apakah gw mampu merealisasikan keputusan gw ini, tapi setelah gw timbang-timbang lagi, gw rasa hanya itu keputusan terbaik yang tersisa.


Pada akhirnya nanti, gw akan sadar bahwa keputusan inilah yang gw jadikan dasar untuk mengambil tindakan selanjutnya. Untuk sementara, kartu ujian SNMPTN berhasil memaksakan gencatan senjata antara Galauvirus dan suara hati gw.


Next : Galau ~Jilid 3





Galau ~Jilid 1

"[piiip] mau masuk FKU[piiip] poi!"


Sms yang datang di malam September itu langsung menggoyahkan hati gw. Seketika aja hasrat nonton gw hilang, lenyap. Gw cepet-cepet mengurung diri di kamar untuk berpikir lama. Serius, cuma sebuah info ringan sebenernya, tapi ternyata itu cukup untuk membuat hasrat terpendam yang telah gw matikan dari dulu-dulu kembali bangkit dari kuburnya kemudian melarutkan gw dalam kebingungan panjang.




Setahun yang lalu, gw adalah seorang pelajar SMA yang bersemangat dan memiliki niat skala maksimal untuk mewujudkan cita-cita menjadi seorang dokter bedah syaraf. Tidak pelu ditanya gimana upaya gw untuk meraih visi masa depan itu karena semua orang pasti tahu apa maknanya "study hard". Walaupun ortu gw sedikit tidak setuju karena mereka gak yakin dengan kelas ekonomi keluarga yang di bawah rata-rata, itu semua gak pernah menyurutkan keinginan gw. Sedikitpun.

Sebuah hal yang lumrah terjadi dalam hidup saat takdir ternyata gak sesuai dengan harapan. Pada akhirnya, realita mengatakan bahwa gw harus terdampar di jurusan Ilmu Komputer yang sebenernya gak pas banget dengan gw yang berspesialisasi di bidang Biologi. Tapi gw rasa semuanya jadi begini bukan sepenuhnya karena Tuhan yang telah memutuskan ; justru sebagian besarnya karena memang gw yang salah. Ada pemikiran keliru yang gw ikuti (yang gw sendiri males membicarakannya lagi karena cuma membuat gw merasa bodoh) dan ujung-ujungnya malah membuat segala persiapan gw jadi gak berguna. Lalu, seumur-umur, gw hanya mau masuk FKU[piiip] sehingga terlalu sulit buat gw menentukan apa pilihan jurusan satunya karena tidak punya bayangan tentang universitas lain. Jadilah gw biarkan orang tua yang turut campur memutuskan tentang ini, tanpa gw sadari kalau keinginan orang tua gw belum tentu sesuai dengan kemampuan gw sendiri.


Tapi mau gimana lagi kan? Toh ini kenyataannya. Mau gak mau, suka gak suka, cocok gak cocok, tetap harus gw terima. Yang gw lakukan pertama kali setelah selesai ngeliat pengumuman adalah mengikhlaskan segalanya. Melepaskan cita-cita gw. Merelakannya tanpa tahu apakah gw memang sanggup melakukan itu. Yah, bisa atau tidak, waktu itu cuma sikap ini yang bisa gw ambil. Yang jelas, satu yang menguatkan gw : Tuhan selalu punya rencana yang baik untuk hamba-Nya. Gw selalu percaya itu.



Gw memilih untuk menjalani serius apa yang hidup berikan. Menjadi seorang mahasiswa rajin yang setiap hari menghadiri kuliah IT. Berteman dan membangun relasi dengan orang-orang yang notabene laptop-addicted. Walaupun memang pada semester-semester awal ini materi lebih banyak didominasi oleh Matematika yang merupakan pelajaran paling gw benci sedunia, tapi ternyata di sini gw menikmati ilmu yang ada, Matematika sekalipun. Uni[piiip] sukses 100% membuat gw berbalik mencintai Matematika, yang buat gw adalah sebuah anugerah tersendiri dan tak terduga karena dengan ini akhirnya filosofi keilmuan gw terpenuhi sudah (apapun filosofi itu, terlalu berat untuk diumbar-umbar sehingga lebih baik kalau gw simpan saja). Ada sedikit masalah sosial yang gw dapatkan memang, tapi itu tidak lebih dari sekedar proses adaptasi. Untuk selanjutnya, gw bersyukur karena memiliki rekan-rekan yang baik.

Dalam waktu singkat, gw menyadari kalau gw telah menggenggam kesempurnaan hidup. Orang-orang di lingkungan sekitar gw begitu pengertian, meskipun masih sedikit kurang kompak, tapi mereka selalu bisa dijadikan tempat berbagi suka maupun duka. Tetap bisa lucu dan becanda walaupun barusan aja dapet nilai jelek di kuis. Mudah diajak kumpul bareng dan ngobrolin apapun, mulai dari segala hal tentang IT, pertandingan sepak bola semalem, gosip selebriti, film korea, gadget terbaru, sampai kongek-kongekan gak jelas. Perkuliahan yang menurut gw menyenangkan, santai, bisa diajak facebook-an (hehe), tapi semua yang dibeberkan dosen itu masuk ke kepala. Kalaupun gak gw perhatikan, gw masih bisa mengejar dengan membabat buku teks yang ada. Nilai akademis? Excellent. Gak pernah terpikir dalam sejarah hidup gw, bahkan dalam mimpi sekalipun, kalau semua kuis Kalkulus I gw dihargai dengan nilai sempurna 100. Wow, welcome to my new world. Belum lagi, dengan beasiswa yang gw dapatkan, semua biaya perkuliahan gw terjamin sampai lulus. Lengkap kan? Temen-temen yang seru, akademik "dewa", lalu tercukupinya segi finansial. Kurang apa lagi?

Jujur, waktu itu masih kuat bercokol di hati gw untuk kembali mencoba peruntungan tahun depan demi mengejar cita-cita jadi dokter. FKU[piiip] masih membayang-bayangi gw. Tapi, semakin lama, semakin gw menjalani hari demi hari di kampus ini, gw semakin sadar kalau hidup yang sudah komplit begini terlalu sayang untuk dilepaskan. Belum tentu juga semua yang gw peroleh di sini bisa seluruhnya gw temui lagi di FKU[piiip] kan? (pastinya gw akan terbentur masalah dana). Hasrat untuk cita-cita itu perlahan-lahan tertekan dengan sendirinya, sampai akhirnya hanya berwujud titik kecil yang sebenernya cukup dengan satu kibasan tangan aja pasti bisa hilang. Niat gw makin surut, seiring dengan gw sendiri yang semakin menerima kalau nanti gw akan jadi programmer yang hebat. Tapi gw sangat sadar, sekecil apapun niat itu, dia masih ada. Terkadang gw selalu memanggil kembali memori khayal diri gw yang bertitel Sp.BS. Entah kapan gw bisa melupakan impian lama gw ini ; gw bahkan gak yakin bisa melupakannya, malahan mungkin akan terus teringat-ingat sampai gw tua. Karena gw paham betul kalau ini bukan lagi sekedar obsesi ; ini sudah masuk level cinta mati.



Awalnya gw gak terlalu ambil pusing soal itu. Gw biarkan aja semuanya mengalir dan lihat gimana akhirnya nanti. Sebelum sms tadi datang. Setelahnya, seperti habis menelan pil ekstasi, tiba-tiba aja keinginan gw untuk jadi dokter menggebu-gebu lagi. Pemicunya hanya sebuah pertanyaan,"Ayo, lo nyoba lagi ya tahun depan?" Cuma ada dua opsi : "ya" atau "tidak", tapi begitu susah buat gw untuk memutuskan mau mengambil jawaban yang mana. Setengah hati gw berpihak pada kenyataan yang tengah gw jalani, tapi setengahnya lagi merasa belum puas. Yang setengahnya lagi ini selalu bilang,"Kamu masih punya dua kesempatan lagi untuk mecapai apa yang selama ini kamu impi-impikan, Feb. Bodoh banget kalau kamu sudah menyerah sementara jalan kamu masih seluas itu. Kamu masih yakin kan kalau kamu bisa jadi dokter? Terus kenapa lagi? Katakan aja 'ya'!" Namun ketika gw melirik setengah hati gw yang lain, pasti muncul pertanyaan mengerikan begini,"Apakah saya tidak bersyukur, Tuhan?"

Sisi realistis dan idealis gw berperang di sini. Gw mikir, turut mengkalkulasi, mempertimbangkan semua kompensasi untuk mendapatkan anggaran yang seminimum mungkin. Saat itulah gw dapati fakta menyakitkan bahwa orang tua gw gak akan sanggup menanggung kalau sebesar ini. Tapi saat itu juga bagian kepala gw yang lain mulai menyangkal, lalu memaparkan segala cara yang layak dicoba untuk mendapat tambahan dana. Cara yang gak tau apakah bisa gw lakukan ; atau kalaupun bisa, gw juga gak tau apakah berhasil menutupi tuntas semua kekurangan yang ada. Gw bener-bener gak tau. Gw terlalu bingung dan gak bisa memutuskan mau mematuhi yang mana. Ketakutan gw pada masing-masing resiko yang dibawa kedua pilihan itu sama besarnya. Gw gak cukup kuat untuk melepaskan cita-cita gw begitu aja, tapi gw juga gak bisa setega itu memaksa orang tua gw untuk pontang-panting banting tulang dan berhutang sana-sini cuma untuk memenuhi ambisi gw, padahal untuk hidup mereka sehari-hari aja belum tentu tercukupi.


Inilah saat dimana pintu kegalauan terbesar dalam hidup gw terbuka. Keadaan gw yang kebingungan ini berlanjut dan berlangsung lama. Orang-orang selalu bilang untuk menuruti kata hati, tapi masalahnya sekarang hati gw ini bercabang dua, dengan area percabangan yang sama luasnya. Peluangnya 50:50. Yang membuat gw sulit mengambil tindakan karena tidak ada kecenderungan mau ke arah mana. Rasanya kayak jatuh ke dalam lubang di dasar jurang dan kita gak bisa ngapa-ngapain karena yang ada cuma gelap. Terkadang karena itulah gw sering nangis sendiri. Rasanya mau putus asa aja, gak mau milih apa-apa ; tapi membiarkan semuanya ngegantung kayak gini juga gak bisa dibenarkan karena gw gak mau jadi manusia gak jelas yang gak punya tujuan hidup pasti.




Sebulan sudah lewat, didukung karena gw sudah capek untuk galau, akhirnya gw berpikir simpel,'Uang bisa dicari, tapi kalau cita-cita yang hilang, dengan uang sebanyak apapun, dia gak akan pernah kembali.' Entah ilham dari mana itu, tapi jelas sekali sekarang kalau sudah sepatutnya gw mempertahankan apa yang gw yakini selama ini dan berjuang lagi. Ditambah lagi dengan support dari temen-temen SMA gw yang semakin mempertegas bahwa keputusan gw ini sudah tepat. Mereka aja percaya gw bisa jadi dokter, lalu kenapa gw sendiri gak?


Pada dasarnya, gw memang penganut paham idealis dan selalu menolak untuk berpikir realistis. Gw akui kalau gw belum punya rencana yang matang tentang masalah biaya. Untuk sementara ini gw masih mempercayakan soal uang pangkal dan SPP semesteran ke ortu gw ; tentunya setelah dapat sedikit kortingan. Untuk biaya hidup, gw punya jalan keluar sendiri yang bisa gw pikirkan sambil jalan. Bagaimanapun juga, didasari dengan "resolusi 18 tahun", gak akan gw izinkan uang menjadi penghambat gw dengan cita-cita gw. Karena kelak gwlah yang akan pegang uang, bukan uang yang 'megang' gw.