Showing posts with label regret. Show all posts
Showing posts with label regret. Show all posts

Sunday, October 13, 2013

Mengenangmu Vol. II

Baru sadar gw kalau data bulan September itu banyaknya minta ampun. Dan gak butuh waktu sebentar pastinya untuk memperoleh semuanya kembali. Beberapa bahkan butuh perjuangan berat, terutama yang berkaitan dengan KKN kemarin, seperti video intro (gw perlu online seharian lebih dong untuk merampungkannya), laporan subhanallah (kalau yang ini sebulan 5 hari), lembar-lembar penilaian yang dibuat dalam rangka jaga-jaga (semalaman), sama foto-foto hasil sotosop (usaha semingguan). Kenelangsaan itu bertambah ketika inget kalau bookmark browser yang tumpeh-tumpeh dan selalu gw manage dengan penuh kesabaran ternyata tidak tercatat di harddisk. Zzzzz. Langsung deh garuk-garuk kepala sambil bertanya begini,"Kenapa harus hari Kamis sih???". Silakan ini mah kalau device-nya mau diambil, cuma tunggu sampe segala isinya ada di tangan gw dulu gimana? Datanglah akhirnya Sang Penyesalan, perihal malam sebelumnya yang ketiduran sehingga batal melakukan backup bulanan. Akh.

Kau begitu tepat, hai Peminjam Netbook. Kau benar-benar memilih waktu yang tepat. Pengen rasanya saya makan sendal.

Pada suatu titik, bayang-bayang Gadget Jelek terlintas di kepala, yang kemudian membuat mata ini berkaca-kaca alay. Gw pun menegarkan batin dengan men-suggest diri: "Febrasari Almania, ingat, kamu sudah ikhlas. Sejak awal itu memang bukan punya kamu, jadi, jangan ditangisi." Eh, malah netes beneran dong. Hahaha. Dasar payah nih manusia.

Setelah menyapu wajah pake sarung, tiba-tiba gw terpikir: entah kenapa, kalau barang-barang tercinta begini, tutup usianya gak pernah baik-baik di tangan gw. Diawali dengan N70 yang gak sengaja nyemplung ke laut, lalu mp4 cakep yang digeletakin di meja terus besoknya raib gak balik-balik lagi, dan yang terakhir ya ini. Berasa sekuel pilem sakit hati.

Ya sudahlah. Tolong kuatkan saya ya. Amien.

Thursday, February 14, 2013

Krono : Selasa Terluka

06.30 WIB
Nyapu. Ngepel. Entah kenapa akhir-akhir ini saya sok rajin beres-beres rumah. Apa karena efek-umur-semakin-pantas-jadi-ibu-rumah-tangga? Hahah. Apasih -_- 
Setrika jaket. Setrika celana. Setrika kemeja. Saya paling gak tahan kalau banyak setrikaan, tapi gak tau kenapa tadi saya menikmatinya. Apakah ini semua karena efek-umur-semakin-pantas-jadi-ibu-rumah-tangga? Hahah. Ya kali -_- 
Mandi. Hampir nyuci. Yang terakhir itu pasti gak akan ada "hampir"-nya kalau saya gak inget tangan saya masih luka-luka.

10.00 WIB
Keluar dari teras rumah bersama motor kesayangan untuk melanglang buana ke Samsat. Bayar pajak kendaraan ceritanya. Sebelumnya sibuk dulu balut-membalut stang motor karena menyakitkan rasanya mempertemukan sela-sela jari yang koyak ini dengan benda-benda bertekstur kasar.  

11.00 WIB
Datang ke kampus dengan maksud mau ngeliat nilai-nilai baru yang dikeluarkan dosen dan mengakses Facebook. Sayangnya, dua-duanya gak ada yang tercapai. KHS saya masih bertahan pada status quo minggu lalu. Server proxy yang dijagokan juga sedang kehilangan bandwidth. Puncaknya, saya malah dimarahin Ibu Negara via sms karena sok belagu ke kampus padahal tangan dan kaki belum sembuh.

12.13 WIB
Pulang. Shalat Dzuhur. Mengurus n*n** yang tumpeh-tumpeh. Kemudian nginviz di kamar sambil kepo buku Fisika. Sampai ada dua orang yang datang ke rumah, membawa rambutan dan... suntikan. Untung karet suntikannya rusak. Hehehe.

15.24 WIB
Tertidur bersama lantunan video musik hip-hop. 

18.06 WIB
Kebangun pas ujan jadi agak males-malesan menunaikan shalat Maghrib. Tapi saya berhasil kok kuat iman sampai Isya'. Iyalah ya harus.

20.21 WIB
Belajar Fisika lagi seraya tegar merawat kulit. Sebenernya buka ebook HTML, tapi diabaikan. Bahkan ia sudah tertimpah permanen sama window KMP. Hahahaha.

23.53 WIB
Mendengarkan lirik-lirik galau sambil ngetik posting ini.

Malam Minggu Sengit

5 Januari 2013 kemarin, dengan sepakat gw tetapkan, adalah 24 jam paling membosankan di tahun ini. Gw tidak pernah menyangka kalau akan sukses menjadi korban 3 jam perang dingin yang terjadi antara sepasang mantan kekasih. Padahal awalnya hanya sebuah ajakan baik-baik nan bermanfaat via sms: "ayo kita ngerjain laporan mikro di rumah XXX", tapi siapa yang tau kalau sesetelahnya gw menyesal habis-habisan telah meninggalkan kamar gw hari itu.

Sesuatu berjalan sebagaimana mestinya. Gw bahkan secara bahagia mendendangkan bertembang-tembang Sheila On 7 dengan volume suara normal, mengiringi mereka yang sedang---secara bahagia pula---menyaksikan film Perahu Kertas berdua saja di ruang tamu, yang membuat gw terkesan seperti stereo cinta hemat listrik yang pernah ada. It's okay; percuma aja gw menumpuk pengalaman sebagai "pengganti setan" sejak SMA kalau gw gak teradaptasi dengan kondisi begitu. Jadilah kami merasa luar biasa dalam dimensi masing-masing, dimana mereka bersama segala imajinasi ababilnya, dan gw yang berada di state "mood tingkat dewa" mengurusi Metode Numerik.

Sayangnya, semua nuansa menyenangkan itu berakhir saat ba'da Ashar. Tiba-tiba keduanya menunjukkan gelagat tidak mengenakkan, bahkan salah satunya sudah rampung berkemas dan menunjukkan wajah siap angkat kaki sekarang juga. Gw gak tau apakah hati gw mulai bisa mempedulikan orang lain di atas diri gw sendiri, tapi entah kenapa, gw gak bisa menerapkan sikap apatis maksimal gw ketika itu, sehingga GW MERASA SANGAT TERGANGGU karena atmosfer negatif yang keduanya sebarkan di sekitar gw. Passion gw yang tadinya membludak terhadap angka-angka terbunuh sudah. Alhasil, gw pun ikut-ikutan men-shutdown netbook, kemudian keluar ke teras, diam tak bersuara, menunggu mereka berdua selesai saling berbalas argumen via kertas binder -___-

Satu jam, dua jam, dan terus berlanjut hingga azan Maghrib mengudara. Gw sudah membaca semua yang bisa gw baca. Gw gak bisa tidur walaupun hujan deras berbadai turun sore itu. Gw memilih untuk tidak pulang duluan karena gw tidak ingin mengakhiri diskusi mereka yang alot sampai mereka menemukan solusi yang baik. Gw mengeluh dalam hati kenapa gw begitu baik hari ini, dan juga karena gw gak tau apakah bosan ini ada ujungnya atau gak. Puncaknya, sehabis shalat, gw melanglang buana sendirian mencari makan meskipun perut gw gak laper-laper amat. 

Bertepatan dengan melayangnya sepuluh-ribu-gw ke pundi-pundi negara abang bakso, datanglah sepasang orang rempong ini menjemput gw ke tempat makan yang gw datangi. Selain dari yang gw beberkan di atas, satu hal lain yang menjadi sumber kekesalan gw adalah : cuma satu pihak yang tersenyum. Setelah seluruh waktu yang gw korbankan, setelah seluruh energi yang gw kuras untuk memendam kejengkelan, setelah seluruh krik-krik yang gw terima, ternyata yang lain masih tetap terluka---kami sudah berteman cukup lama, sehingga adalah hal mudah untuk gw membaca keadaan hati masing-masing hanya lewat raut muka. Harapan gw tidak bertemu dengan realitanya.

Spontan gw curhat pada Yang Di Atas,'Kenapa begitu sulit untuk membuat dua kepala saja saling mengerti???' Pingin rasanya gw buka forum saat itu juga lantas melabrak secara terang-terangan,"Sebenernya apa masalah kalian?!" Tapi gw gak bisa. Gw memang gak terima begini akhirnya, tapi jika gw lakukan apa yang gw pikirkan tadi, itu sama aja dengan membangkitkan kembali perseteruan yang barusan reda.

Gw pulang. Duduk terpaku dalam perjalanan. Ketika gw mendapati bahwa gw tidak punya cukup adrenalin untuk melakukan apapun lagi, gw pun tidur. Penuh rasa kecewa. 

Sunday, August 28, 2011