Showing posts with label smanda. Show all posts
Showing posts with label smanda. Show all posts

Thursday, November 11, 2010

A Letter For SMANDA

Translater : Rizki Amy Lavita

Maybe being left has been hurting you for times.


You’ve given your apology over and over again. But insolently, they come, and then go. And never come back, with any reason.


It happens, always, from year to another year. Sometimes questions come out in your heart: What’s my fault? What can’t I do for you? Why did you leave me?. You do want to ask them. But you know that none of them would like to listen to you. They just go and disappear again, until you find yourself bored in asking and let those questions be buried in your mind.

Maybe that is the one you are thinking about when we come to you. You’ve prepared thousands apologies for you yourself, cause you know it for sure, that in the end, we will leave you. You also know exactly that we will never tell you any sorry for our departure later. Moreover, we don’t know much about you. And you are there, still, a witness, with a huge sorry for us.

We never know that you keep us in your mind. We never realize that you greet us every morning, though no reply from each of us. You are there, silently see our acts. Maybe there is a time when you really want to join us, converse everything with fun; but you know how impossible it is. It will never ever happen. Then you just keep watching quietly, trying to feel the joy we breathe.

In the time of our sadness, you came along and tried to cheer us up. You tried that hard just to return our laugh back. But it did nothing. When we are bored, you did the same thing, even though you really know that you never be considered. With no reason, you never be tired to talk, while nothing we do but betrayed. Just like the others.

This is what you might think; every story that we make will always color your days up. This could be the one that give you strength to forgive those who never care to you. Maybe it’s just apology which you could dedicate to us to show how thankful you are. We would never deserve to get this, you know.


Slowly but sure, we are disappear. You start to question again: When will you come again? You know for sure that we neither answer you nor come back to you. But don’t you ever know? It never comes to our mind to leave you alone. Deep inside our heart, we really want to stay with you. Don’t you ever realize? When you cried, we cried with you. Can you hear it? Do you see the tears rolling down on our cheeks? We never ever want to let you go. But what can we do? We are just enslaved by time…

So, SMANDA, please, be a good forgiver for the last time. We are just able to give you the memories. We are so sorry; we could no longer stay beside you. We have to go, picking up our future. One thing we tell you for sure: We’re gonna miss you much. No matter how far we are apart, we’ll never forget you.



Remember you always,



2009/2010 generation

Sebuah Surat Dari Kami Untuk SMANDA

Mungkin telah berkali-kali kau alami sakit hati karena ditinggal pergi.

Ini sudah kesekian kalinya kau memberi maaf, tapi entah kenapa mereka tetap saja tak tahu diri. Datang, lalu pergi. Tidak pernah kembali lagi.


Selalu saja begitu dari tahun ke tahun. Terkadang kau bertanya dalam hati : Apa salahku? Apa kurangnya aku? Kenapa kalian pergi meninggalkan aku? Mungkin kau pernah menanyakan semua itu kepada mereka. Tapi tak ada satu pun dari mereka yang menjawab pertanyaanmu hingga akhirnya mereka pergi dan hilang lagi. Sehingga akhirnya kau pun sudah bosan bertanya, dan memendam semuanya itu dalam kepalamu saja.

Mungkin itu juga yang ada di pikiranmu saat kami mendatangimu. Kau sudah menyiapkan beribu-ribu kata maaf untuk dirimu sendiri karena kau sudah tahu persis kalau kelak kami akan meninggalkanmu juga; dan kau juga tahu persis kalau tak seorangpun dari kami akan bilang maaf padamu saat kami pergi nanti. Sepanjang perjalanan kami, kami tidak akan tahu banyak tentang dirimu. Kau, sekali lagi, hanya bisa memberi maaf kepada kami yang hanya menganggapmu sebagai saksi bisu.

Kami tidak tahu kalau kau merekam semua hari-hari kami dalam ingatanmu. Kami juga tidak pernah tahu kalau kau selalu mengucapkan selamat pagi kepada kami, walaupun kami tidak pernah membalas satu pun sapaanmu. Kau hanya melihat dari kejauhan segala tingkah-polah kami. Mungkin saja terbersit dalam hatimu untuk turut bergabung bersama kami, bercanda dan membicarakan banyak hal; tapi kau tahu itu tidak mungkin dan tak akan pernah terjadi, sehingga cukup bagimu untuk diam saja di situ dan turut merasakan kebahagiaan yang kami rasakan dalam diammu.

Saat kami sedang bersedih, kau mencoba untuk menghibur dan membuat kami tertawa lagi, walaupun kami tidak terhibur sama sekali. Saat kami sedang jenuh, kau juga melakukan hal yang sama, walau kau tahu kalau kami tak pernah menganggapmu. Entah kenapa kau tak pernah bosan untuk mengajak kami bicara walaupun kami sama sekali tak pernah mendengar ocehanmu; walaupun kau tahu kalau pada akhirnya kami akan mengkhianatimu juga seperti yang lainnya.

Mungkin ini yang kau rasakan : setiap cerita yang kami ukir selalu memberi warna dalam setiap hari-harimu. Mungkin inilah yang selalu memberi kekuatan padamu untuk terus memaafkan semua orang yang tak pernah peduli padamu. Mungkin memang hanya kata maaf yang dapat kau persembahkan kepada kami sebagai wujud terima kasihmu, walaupun kami yang tak tahu malu ini merasa tak perlu untuk mendapatkan maaf darimu.


Saat satu persatu dari kami mulai hilang dari hadapanmu, kau mulai bertanya lagi : Kapan kalian kembali? Kau tahu, kalau kami tak akan pernah jawab pertanyaanmu. Dan kau juga tahu, kalau kami tidak akan pernah kembali padamu. Tapi tahukah kau? Tak pernah sedetikpun terpikir di benak kami untuk meninggalkanmu. Di dalam lubuk hati kami yang paling dalam, kami tetap ingin tinggal bersama dirimu. Apa kau juga tahu? Saat kau menangis, kami juga menangis. Apa kau mendengar suara isak tangis kami? Apa kau melihat kami menitikkan air mata? Kami sama sekali tidak ingin melepas dirimu. Tapi apalah daya kami, kami hanyalah budak waktu.

Jadi, SMANDA, kami mohon, jadilah pemaaf sekali lagi. Maafkan kami yang hanya bisa memberi kenangan-kenangan semu. Maafkan kami yang tidak bisa ada di sampingmu lebih lama lagi. Kami terpaksa pergi demi masa depan kami. Hanya satu yang bisa kami yakinkan untukmu : kami pasti merindukanmu. Tak peduli dimanapun kami semua berada nanti, kami tidak akan pernah melupakanmu.



Akan selalu mengingatmu,



Angkatan 2009/2010