Showing posts with label ramadhan. Show all posts
Showing posts with label ramadhan. Show all posts

Saturday, March 19, 2016

DQR | #MemoaringMode

Dunya! I'm back to you, and still, you are as always. Why has nothing changed? Ckckck.

Kau pertemukan kami karena cinta pada Kalam yang sama, 

Teringat pada dedebuan rumah yang begitu tebalnya pun sapu lemah yang tak mampu membawanya, hingga semakin lelah raga dibuatnya. Teringat pada percakapan renyah (please read: garing) mengenai rumah Fatimah; yang walaupun berujung titik cerah, tetap saja letaknya belum terjamah. Teringat pada rencana renovasi berat badan yang luntur hilang saat berbungkus-bungkus nasi padang melenggang ke ruangan. Teringat pada perangkat ke-Amir-an yang cantik, pintar, rajin menabung, berpostur ideal, peka dan ringan tangan. Sholihah beud dah kalian; semoga dapet jodoh idaman (yuuuk aamiin-kan XD).

Kau satukan kami atas dasar impian yang sama: menjadi anggota keluarga-Mu dengan segala keistimewaannya. 

Teringat oleh usaha sakit hati membangunkan manusia jam 2 dini hari, yang umumnya hanya berbalas sepi, tanggapan sok peduli "hmmm" yang mungkin saja merupakan bagian dari mimpi, atau... perbaikan posisi, agar tidur makin berarti. Teringat oleh es semangka seember yang segernya nyesss dari mata sampai leher. Teringat oleh makhluk yang menolak ganti baju berhari-hari, menuai protes sana-sini namun tetap tak sadar diri. Teringat oleh Azka yang selalu tersenyum tanpa kata tiap kali digoda, entah kode kecewa atau malah suka.

"Selalu, tak terlupakan, menyulapku menye-menye menyedihkan. 
Selalu, indah, memaksaku terperangah dan terjatuh kalah. 
Selalu, melulu, memendamkan kalbuku rindu.
Selalu, Ramadhan, begitu."

Friday, July 17, 2015

Make It Even

[TODAY'S VERSE] Di penghujung bulan Ramadhan, mengapa tidak kita genapkan perbaikan diri kita dengan menghalalkan segala yang haram?

Jadi, mau tunggu apalagi kalau sudah ada jaminan seperti ini dari Tuhanmu Yang Tidak Pernah Menyalahi Janji?

Follows quran.com's arabic typesetting.

Monday, May 25, 2015

My Nice Ramadhan

"Assalamu'alaikum.
Selamat Anda dinyatakan lulus seleksi Dauroh Qur-an program umum mukim selama 1 bulan. Diharapkan untuk melakukan daftar ulang xxxx-xxxx 2015 di xxxx. Bagi yang tidak daftar ulang pada tanggal tersebut dinyatakan mengundurkan diri.
CP: xxxx xxxx-xxxx-xxxx
Syukron."




Alhamdulillah itu ketika kita akan berjarak selangkah lebih dekat dengan-Nya.  
Happy Ramadhan!


Thursday, August 18, 2011

Dari Dulu Sampai Sekarang : Saya dan Ramadhan

Ketika gw masih polos skala dewa, saat itulah Ramadhan pertama menghampiri gw yang gak tau apa-apa. Tiba-tiba gw dikasih buku tipis ; yang karena faktor gak tau itu malah gw pake buat kipasan di dalem masjid. Sampai akhirnya gw mengerti apa gunanya buku ini dan mulai sadar betapa hidup gw sangat berat karena harus memburu 30 resume lengkap dengan tanda tangan narasumber dan cap instansinya. Mengingat filosofi 'kalau kamu bisa naik mobil untuk cepat sampai bertemu anak-istri di rumah, lalu kenapa kamu harus jalan kaki?' (entah ini filosofi siapa, anggep ajalah hak patennya ada di seseorang bernama Febrasari Almania), akhirnya gw mulai mengenal apa itu 'mobil'. 'Mobil di jalan tol'. Hahaha. Dari nyalin hasil kerja orang, ngambil dari acara tivi tapi pakai nama tetangga sebelah sebagai penceramah, memalsukan tanda tangan, sampai meminjam stempel risma untuk sementara (tanpa izin tentunya) biar bisa mencap habis semua halaman sekaligus. Gw tersenyum bangga setelah mendapati buku yang bersangkutan telah terisi penuh, tepat setelah gw meng-kopas salah satu artikel dalam buku "Khotbah-Khotbah Idul Fitri" koleksi kakek gw.

Itu 'senyum setan' yang pertama.



Layaknya anak kecil normal yang masih belum bisa berenang melawan arus godaan, maka begitu juga gw yang dengan tanpa bebannya tega batal puasa jam 11 siang cuma karena ngeliat temen makan chiki yang setelah gw rasain ternyata gak ada enak-enaknya sama sekali. Yang cekikikan saat tarawih kemudian pasang muka sok sholeh sehabis salam untuk membohongi para orang tua cerewet di saf terdepan, itu gw (bareng temen-temen ya ; gw gak se-ngeri itu untuk cekikikan sendirian). Mereka yang setelah sahur bukannya duduk manis dan tenang nunggu imsak atau azan tah, tapi malah maen 'roti goreng' (jangan tanya permainan macam apa itu karena gw sendiri sulit menjelaskannya dengan kata-kata), itu pun gw. Lalu golongan kurang ajar yang sering main uberhem di masjid sebelum mulai shalat Isya lalu dengan pedenya bilang,"Saya ganteng" di depan mic mimbar yang masih hidup, itulah gw dan temen-temen gw. Kalau ada manusia yang ngumpulin sajadah jadi satu gulungan besar yang bagian tengahnya tertusuk di sebatang kayu terus manggang gulungan itu di atas api, kemudian setelah cukup harum mulai menikmati gulungan tadi seperti makan kambing guling, nah itu baru BUKAN gw. Obat gila gw habis pun insya Allah gw gak akan bertingkah seperti itu. Gw gak seprofesional itulah dalam menjatuhkan image gw ini di mata publik.


Ramadhan=THR. THR=Ramadhan. Apapun tiket travel dengan 'mobil jalan tol' yang gw miliki selama Ramadhan, tujuannya pasti tetap THR. Dengan segala semangat di dalam hati, gw rela capek keliling komplek rame-rame dengan yang lain, ngedatengin setiap rumah dengan muka kasihan tapi tampan, minta maaf, minta makan, lalu minta uang. Tidak cukup hari pertama, maka misi yang sama akan berlanjut di hari kedua. Begitu selanjutnya hingga pada ujungnya otak bau kencur gw ini mengukur tiap lembaran berharga yang terselip di kantong gw dengan kesimpulan bau kencur juga,'Jumlah segini udah cukup buat beli Blackberry!' Pastinya dengan senyum bangga lagi.

Itulah 'senyum setan' yang kedua.


Disebut 'setan' karena tujuan ber-Ramadhan gw tersirat dalam satu pertanyaan,'Kenapa Ramadhan (baca : THR) tidak terjadi 12 kali dalam setahun?'



Ketika sudah mulai gaya dengan seragam putih-biru, benteng nafsu gw sudah kuat dan gak level lagi untuk tergoda cuma karena ngeliat orang minum es kelapa muda di pinggir jalan. Muncullah juga waktunya saat gw sedikit insaf (entah insaf sendiri atau diinsafi) tentang bonus Ramadhan yang satu lagi : pahala berlipat ganda dan banyak keutamaan lainnya. Tapi 'mobil jalan tol' langganan gw masih enggan untuk mengubah sepenuhnya tempat tujuan utama sehingga diri gw menegakkan sikap 'bonus akhirat oke, bonus dunia juga ayo'. Yah, ada kalanya sikap tamak itu diperlukan juga agar jadi pemenang di segala aspek. Hehehehe.


Anggaplah gw masih dalam fase rehabilitasi sehingga proses perubahan gw ini gak secepat pasangan-selebriti-kawin-lalu-cerai. Memang ada beberapa malam dimana gw kerasukan malaikat entah dari lapisan langit keberapa sehingga gw melibatkan diri dalam kegiatan tarawih walupun ngantuk gak ketahanan, tapi sebagian besarnya masih diwarnai oleh tingkah-tingkah dodol seperti kabur makan bakso setelah selesai ceramah kemudian karena kekenyangan langsung pulang ke rumah, mengunci kamar, terus berakting pura-pura ketiduran. Atau pakai cara lama dimana tetap ngrumpi dengan 'mode bisik-bisik' di saat semuanya sedang tarawih, dengan syarat sedikitnya mengikuti satu gerakan imam paling penting, yaitu salam. Celakanya, jika ada salah seorang aja dari sekelompok permainan gw itu yang kesambet mau shalat, maka sisanya pasti ngelawak sehingga dia yang sok alim ini ikutan ketawa dan gak jadi shalat. Makanya strategi gw kalau lagi mau tarawihan adalah nyempil di barisannya emak-emak. Niscaya temen-temen gw itu mati kutu gak bakal berani ngegangguin. Hahaha.


Zaman-zaman jahiliyah-nya gw itu adalah SMP. Ditambah lagi setelah gw mengenal yang namanya mercon dan petasan. Bodo amat pak polisi mau ngomong apa atau mau masang spanduk bertuliskan "BERMAIN MERCON ATAU PETASAN ITU BERBAHAYA" segede apa, cupu rasanya kalau gw gak pernah sekalipun menyulut sumbu mercon atau petasan itu dengan tangan gw sendiri. Akibatnya, setiap malam ba'da Isya, gw dan segenap kawan-kawan gw, terkadang dengan adek-adek gw yang juga mengikuti, kami main mercon dan petasan sambil nongkrong di PKOR. Berasa kami inilah penguasa PKOR nomor satu, padahal cuma bocah-bocah bau ingus.

Setelahnya segera gw sadari kalau mercon dan petasan ini bisa disulap menjadi lahan bisnis yang menjanjikan. Tanpa perlu waktu lama, gw pun menjelma jadi bandar mercon dan petasan seseantero komplek. Bahkan adek-adek gw merintis karir dengan menjabat posisi distributor utama. Keadaan begini berlangsung hampir 2 tahun ; makanya jangan heran kalau pengetahuan gw sangat mendalam tentang jenis-jenis mercon karena gw memang pernah jadi pakar di bidang itu. Sampai akhirnya ada seorang polisi ganjen ngedatengin rumah gw dan menyita dua bungkus mercon korek. Rupanya ada anak sial yang kepergok lagi main mercon dan menyebutkan nama gw ketika ditanya siapa supplier mercon yang dia pakai. Ya sudahlah, gw biarkan saja pak polisi itu dengan puasnya membawa pergi dua bungkus gw yang berharga tanpa dia tahu kalau tepat di bawah wadah dua mercon yang disitanya itu ada sejumlah besar mercon siap jual dengan kotak rokok sebagai kamuflasenya. Ya, gw ini memang imut, tapi gw tidak bodoh. Hahahahaha.




Entah karena faktor mulai dewasa atau malas mau melakukannya lagi, menginjak SMA, hampir seluruh kebinalan itu gw tinggalkan. Hampir ya, kecuali satu. Hehehe.


Awalnya ini kerjaan jahilnya adek gw yang bungsu, tapi gak urung juga gw ikut-ikutan.

Rumah gw tepat di depan mushala. Selama Ramadhan, penjaga masjidnya yang masih mahasiswa itu dipasoki makanan berbuka dari ibu-ibu se-RT secara bergilir. Jeda antara azan dengan shalat maghrib yang deket pastinya gak memberi waktu cukup buat si penjaga untuk sekaligus ngabisin semuanya dong. Jadi, dia biarinin dulu aja di deket rak buku mushala untuk nanti dimakan lagi. Kabar gembiranya, rak buku yang dimaksud ada di bagian paling belakang mushala. Mudah untuk gw pergi sebentar ke mushala, masuk diem-diem, terus nyomot beberapa makanan tanpa ketauan jemaah yang lagi shalat. Mungkin kalian nanya,"Apa makanan dari rumah gak cukup?" Satu yang perlu gw tegaskan : risolnya selalu enak. Hahahahaha.



Kalau ada pertanyaan,"Di dunia mana gw ini jadi orang baik-baik?", gw gak yakin ada jawabannya. Hahaha. Begini ya, menjadi orang yang berakhlak terpuji itu tentu aja termasuk kriteria dalam membangun hubungan sosial yang ideal dan juga sesuai dengan tuntunan agama, tapi sesekali berbuat nakal itu dibutuhkan guna memberi kesempatan pada jiwa kita untuk menikmati hidup yang indah! Meskipun banyak yang bilang kalau indahnya dunia itu cuma sementara, tapi tetep aja mubazir 'kan kalau kita abaikan begitu aja tanpa pernah kita cicipi sedikit? :P


In this life, this 'irrational' life, good and bad are the same (Donquixote Doflamingo)

Sunday, July 31, 2011

Welcome, Ramadhan!

Sebagai bentuk cinta gw kepada seluruh penduduk dunia maya, yah, walaupun gw merasa kalau gw gak punya salah sama kalian [ini sampel orang paling pede sedunia], tolonglah maafin gw. Ingatlah muka gw yang setengah lucu setengah ngelunjak ini dalam hati kalian, resapi kehadirannya, visualisasikan dalam alam bawah sadar kalian secara perlahan-lahan. Kemudian, jika kalian mulai merasakan gelagat mau muntah darah, maka saat itulah kalian harus memaklumi semua kesalahan yang telah gw perbuat di masa lalu. Karena hanya dengan begitulah, kalian bisa menghapus bayangan wajah gw itu dan tentu akhirnya kalian memiliki kesempatan untuk merindukan gw kembali. Lalu, kalau kalian mulai tidak kuat menahan akumulasi rasa sakit akibat takdir Tuhan yang tidak jua mempertemukan kita padahal kalian sangat ingin memukuli gw pake batang kayu, lampiaskanlah dengan men-search nama gw di Google. "Lalu gw akan datang", itu kan lanjutan kalimat terakhir yang kalian harapkan? Oh, jelas tidak. Kalau gw dateng, pasti kalian bakal ngegetok kepala gw pake CPU komputer karena prolog narsis ini.


Fenomena pertama awal Ramadhan Indonesia adalah peserta tarawih sedang dalam angka maksimal. Yang seiring waktu akan makin menyusut dan akhirnya tinggallah para lansia yang itu-itu saja, sementara sisanya sudah hanyut, tenggelam dan terkubur dalam arus mudik, orderan kue, atau euforia kembang api. Sayangnya gw bukan termasuk para peserta lalai itu karena gw sudah lalai duluan -_- . Jika kalian perhatikan waktu postnya, apa rasional kalau orang tarawih sambil ngetik posting begini??? Ya, gw memang bukan anak baik-baik yang selalu patuh dan tunduk pada suruhan ortu. Gw juga sudah membayangkan akan sengoceh apa ibu gw saat tau kalau gw mengembara di tempat selain masjid malam ini, lalu beliau akan mulai mempertanyakan status 'anak tertua' yang gw sandang.

(Sebenarnya gw selalu bertanya begini dalam hati saat diungkit-ungkit soal 'kakak harus memberi contoh yang baik' : siapa juga yang minta aku dibrojolin pertama??? XP)


Gw gak tarawih bukan karena mau main mercon atau petasan sama anak kecil tetangga sebelah rumah seperti kelakuan gw jaman SMP. Gw juga gak tarawih bukan karena mau ngeborong nyalin resume ceramah tahun lalu ke buku Ramadhan tahun ini terus memalsukan tanda tangan penceramahnya kayak gw masih SD dulu. Bukan juga karena nungguin abang-abang bakso enak lewat untuk makan bareng-bareng teman sepermainan terus ikut-ikutan shalat hanya pas sujud terakhir guna memberi kesan 'kami ini anak yang sholeh' pada nenek-nenek cerewet yang duduk di saf terdepan. Bukan juga ngegahol sama geng-geng gak jelas yang sering nongkrong di PKOR. Maaf kawan, masa-masa gelap itu sudah gw tinggalkan. Sayangnya, sampai sekarang gw masih tetap saja diiliputi kegelapan karena rupanya area kelam masa muda gw sangat luas sampai-sampai mencakup masa-masa perkuliahan. Entahlah, atau jangan-jangan memang gw yang malas insaf? Hahahahaha.


Awalnya, gw terjebak dalam kegiatan blogging akibat semangat menulis yang melejit drastis. Sampai akhirnya gw terseret masuk ke dalam facebook. Tapi gak apa-apalah, mengingat mungkin ini akan jadi sedikit acara perpisahan karena mulai sekarang gw akan meminimalisir frekuensi kunjungan gw ke facebook akibat perhatian gw telah teralihkan ke situs lain. Terima kasih untukmu facebook, yang selama ini telah menggoda dan mengacaukan fokus gw saat online sehingga gw rajin login padahal gak ada yang mau dikerjain. Cukup sudah aku diperbudak olehmu. Lagipula, gw cukup risih juga karena partisipasi gw di facebook ini turut mengisi dompet Mark Zuckerberg sedangkan gw sendiri kehabisan uang di warnet. Tunggulah gw yang akan menciptakan website jejaring sosial baru yang lebih inovatif, modern, dan secure, yang salah satu fiturnya memungkinkan setiap membernya untuk berbagi mie Indomie secara nyata. 


*jadi Indomie... -___-*


Mari hentikan semua pembicaraan tidak bertopik ini. Sebelum kalian menghujani gw dengan lemparan batu karena tulisan gw yang ternyata tidak berbobot, ada baiknya kalian segera tarawih dan meminta ampun pada Tuhan. Kemudian mintalah BB baru pada ayah kalian [?]. 


Selamat datang, Ramadhan! Jangan buat aku jadi pesakitan karena puasaku hanya sekedar lapar dan haus saja yaaa. 
(dalam hati : target THR Ramadhan ini.... [pegang kalkulator] XD)