Showing posts with label fantasizing. Show all posts
Showing posts with label fantasizing. Show all posts

Monday, February 20, 2012

Mungkin yang Gw Maksud Adalah Gombalanologi, ya?

Gw teringat salah satu cabang ilmu Biologi ketika gak sengaja mendengar "eongan khusus musim kawin"  dari dua ekor kucing hitam yang sedang bercengkrama di teras rumah gw, yaitu Etologi. Yap, istilah barusan adalah bidang yang khusus mempelajari perilaku hewan. Dulu, ketika gw sedang berada dalam masa-masa jayanya murid SMA, gw pernah berniat untuk mengetahui, walaupun sedikit, tentang Etologi ini. Karena, saat itu, di mata gw, yang beginian keren banget. Gw gak pernah nyangka kalau ternyata sesuatu yang bersifat sosial abis seperti tingkah laku dapat disentil dengan pendekatan sains. Selama ini kan otak cupu gw hanya menganggap 'naluri' sebagai barang yang akan sangat sulit, atau bahkan tidak mungkin untuk diteliti karena... itu naluri. Intuisi gitu loh. Kalau masalah luas bangun bisa lo selesaikan dengan pengintegralan, atau fenomena pemuaian gas mampu lo jelaskan dengan Hukum Boyle-Gay Lussac, nah, bagaimana lo menyatakan takaran intuisi, insting, atau sejenisnya, secara kuantitatif?

Yah, lupakan saja gw yang masih polos dan mudah terjerumus ke dalam kejahiliyahan itu. Sekarang, gw sudah mempersembahkan diri bulat-bulat pada cakrawala dunia yang lebih luas. Percayalah, jika dibandingkan dengan gw-yang-berseragam, gw-yang-fashion-stylenya-lebih-gembel-lagi ini sudah tetap masih lemah. 

#Itu mah artinya sama sekali gak ada perubahan dong (bacok kepala pake lembing).

OK, back to the main point. Maka, untuk sesaat, terbersit sedikit rasa untuk mulai menekuni Etologi di dalam hati gw. Tapi, alasan yang mendorong gw-yang-zaman-milenium ini berbeda dengan milik gw-versi-jahiliyah. Kali ini, gw ingin mendalami Etologi untuk menguji hipotesis yang gw tarik sesaat sebelumnya : apakah "eongan khusus musim kawin" ini levelnya setara dengan gombalan-gombalan maut yang akhir-akhir ini sering dihadirkan dalam acara-acara komedi?


------------------------------------------------IN MY MIND-----------------------------------------------

Jantan : Yank, tau gak kenapa warna bulu kita hitam semua?

Betina : Emang kenapa, Yank?

Jantan : Karena cinta kita yang hangat dan menyilaukan sudah cukup untuk menerangi kita berdua.

Betina : Aaaaa... co cwiiiittt...

Jantan : Tapi, sebenernya, kamu tau gak sih, Yank, kenapa aku tetep sayang sama kamu walaupun kamu hitam begini?

Betina : Kenapa, Yank?

Jantan : Karena sehitam-hitamnya kamu, akan lebih hitam lagi hati aku kalau kamu tinggalin aku.

Betina : Makasih ya Yaaaank. Nah, sekarang kamu tau gak kenapa aku tetep cinta sama kamu walaupun kamu juga hitam legam?

Jantan : Wah, kenapa tuh, Yank?

Betina : Karena, sehitam-hitamnya kamu, akan lebih hitam lagi pikiran sama perasaanku sampai-sampai aku lupa daratan karena kamu terus-terusan gombalin akuuuuuuh....

Jantan : Ah, Sayaaang....

Epilog : Berkomplot melakukan perampokan bersenjata di rumah tetangga kemudian menikmati ikan hasil maling tadi berdua saja, diiringi musik romantis dan nyala lilin remang-remang.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sungguh sebuah motivasi yang sangat tidak genah untuk melibatkan diri dalam disiplin ilmu yang baru -___-

Thursday, October 20, 2011

Di-Blacklist Dulu

Untuk sementara Anda di-blacklist dulu, karena rupanya hati saya belum mati untuknya.

Untuk sementara Anda di-blacklist dulu, karena malam saya belum ingin berhenti memimpikannya.

Untuk sementara Anda di-blacklist dulu, karena ternyata ia berlari pun saya masih punya tenaga untuk menyusulnya.

Untuk sementara Anda di-blacklist dulu, karena meski jauh pun sepertinya tetap tersedia sebuah sudut untuk saya memandangnya.

Untuk sementara Anda di-blacklist dulu, karena Tuhan juga belum beri tahu apa akhirnya.

Untuk sementara Anda di-blacklist dulu, karena bukan saatnya saya sudi untuk bilang,"Ya sudahlah..."

Friday, September 9, 2011

Jika Aku Menjadi Peserta Big Brother

Item wajib pertama setelah barang-barang pribadi gw : Alquran. Siapa tau setelah keluar dari sana, ilmu agama gw sudah sakti kemudian gw diorbitin jadi ustadzah. 

Lalu lima koper besar yang isinya hanya buku. Bahkan dengan diri gw yang gak jago ngrumpi ini, gw gak yakin lima koper itu udah cukup.


Pertama, jelas buku sains. Situasi ini harus gw manfaatkan untuk membangun karakter ilmuwan (dan mungkin adalah langkah awal untuk menggoyahkan anggapan orang-orang bahwa Einsteinlah orang terpintar di dunia, hehehe). Namun karena ketiadaan fasilitas untuk bereksperimen, mungkin akan sangat sulit bagi gw untuk mengaplikasikan pengetahuan yang baru saja gw peroleh. Yah, paling sesukses-suksesnya gw hanya sampai pada penemuan Peledak Kamera.

Yang terpikirkan berikutnya adalah literatur psikologi. Berbeda dengan sebelumnya, di sini justru terbuka lebar kesempatan untuk gw membuka praktek psikiater. Hahahaha.

Terus buku-buku joke serta buku-buku motivasi. Karena gw butuh untuk ketawa. Karena gw butuh pemicu endorfin untuk membuat gw tetap senang di tengah-tengah lingkungan tanpa handphone, televisi, dan koneksi internet. Karena setelah melihat betapa tersiksanya terisolasi dari peradaban, gw butuh penjaga semangat agar gw selalu punya niat untuk bertahan hidup. Gw rasa sedikit aja kata-kata Mario Teguh akan sangat berarti di sini.

Karya fiksi akan gw pertimbangkan. Harus ditakar ekstra hati-hati pokoknya karena ada suatu alasan penting yang mendasari gw untuk berhenti mengonsumsi novel semenjak upgrade status jadi siswi SMP. Hanya akan membangkitkan ketidaknyamanan ujungnya kalau gw terlalu banyak menikmati cerita ciptaan orang lain. Tentu saja, kecuali komik. Hehehe. 

Sebagai media penyaluran jiwa seni, ada baiknya gw mengikutsertakan alat dan kertas gambar. Alasan utamanya sih itu, tapi gw bisa sambil nyambi meracuni makanan saingan yang gw gak suka dengan serbuk krayon. Sebutlah gw "jahat" ; akan dengan sangat ikhlas gw anggap itu sebagai ungkapan lain dari frase "tetap survive". Dan karena alasan survive jugalah gw perlu gitar. Mengingat tidak diizinkannya keberadaan barang-barang kesayangan  milik housemates, yang berarti gw harus meninggalkan mp4 gw, sedangkan gw menggenggam teguh prinsip jiwa muda "No Life Without Music", maka untuk mengompensasinya gw harus menyanyi sendiri dong. Biarlah jari gw kapalan karena terluka oleh senar, daripada hidup gw hampa 'kan? Kalaupun ternyata gitar juga dilarang, jangan salahin siapa-siapa jika gw memelopori sebuah grup perkusi di dalam rumah Big Brother dengan panci-panci dapur dan ember air segala ukuran sebagai modal utamanya.


Buku tulis kosong dan sekotak pulpen. Untuk menggantikan fungsi kertas buram, tempat menampung puisi-puisi penderitaan yang berhasil gw rangkai, pendengar setia semua curcolan gw, dan yang terakhir, yang paling penting, sebagai pelampiasan kalau gw lagi kesel dan mau gigit-gigit sesuatu.

Jangan lupa papan monopoli sama segepok kartu UNO. Misalnya masih terbayang-bayang sama masa bahagia ketika kecil, boleh juga bawa gundu setoples atau tali karet. Kalau lagi bosen parah, itulah sarana have fun yang bisa dimainin rame-rame. Tidak diperkenankan adanya ketapel atau berbagai macam bola walaupun maksudnya baik untuk berburu nyamuk atau main kasti indoor ; apalagi kalau yang punya memang sejak awal berniat mengacau.


Gw juga harus mempersiapkan sebuah pengeras suara dari karton. Pasalnya, jika gw sampai pada kondisi gila stadium dewa, didukung kamera pada setiap sudut, gw akan berlagak seperti seorang sutradara yang sedang bikin film dan gw butuh pengeras suara itu untuk memperjelas instruksi selama syuting.


Pada akhirnya, kalaupun ternyata semua yang di atas itu tidak boleh dibawa juga, wah, dengan sangat terpaksa saya katakan,"Hidup macam apa itu?!" Saya gak akan pernah mau menjadi peserta Big Brother. Hahahaha.


-Yuk, non-stop mengkhayal-


Wake Me Up When September Ends

Summer has come and passed
The innocent can never last
Wake me up when September ends
Like my father's come to pass
Seven years has gone so fast
Wake me up when September ends

Here comes the rain again
Falling from the stars
Drenched in my pain again
Becoming who we are
As my memory rests
But never forgets what I lost
Wake me up when September ends

Summer has come and passed
The innocent can never last
Wake me up when September ends
Ring out the bells again
Like we did when spring began
Wake me up when September ends

Here comes the rain again
Falling from the stars
Drenched in my pain again
Becoming who we are
As my memory rests
But never forgets what I lost
Wake me up when September ends

Summer has come and passed
The innocent can never last
Wake me up when September ends
Like my father's come to pass
Twenty years has gone so fast
Wake me up when September ends

Wake me up when September ends
Wake me up when September ends


-----------------------------------------------------------------------------

Saat lagu ini terdengar dari headset gw, yang terbayang adalah jok paling belakang sebuah mobil bercat hitam yang sedang meninggalkan Bandung. Di sebelah kanan gw ada Iyan dengan Sony Ericsson-nya yang mendendangkan lagu serupa, sedangkan di sebelah kiri gw ada Atma yang berkomentar gak penting,"Kenapa harus September?"

Kalian tahu gak? Hari itu terasa indah banget sekaligus sedih banget. Kenapa sih hubungan kita ini sungguh sangat menyenangkan tepat sesaat sebelum berpisah?

Pernah gak kalian memikirkan jawabannya?


Monday, September 5, 2011

Not With Me

I'm walking up from my summers dreams again
Try to thinking if you're alright
Then I'm shattered by the shadows of your eyes
Knowing you're still here by my side

I can see you if you're not with me
I can say to my self if you're OKAY
I can feel you if you're not with me
I can reach you my self, you show me the way

Life was never be so easy as it seems
'Till you come and bring your love inside
No matter space and distance make it look so far
Still I know you're still here by my side


You've made me so alive
You give the best for me
Love and fantasy
And I never feel so lonely
Coz you're always here with me
Always here with me

I'm walking up from my summers dreams again
Try to thinking if you're alright
Then I'm shattered by the shadows of your eyes
Knowing you're still here by my side

--------------------------------------------------------------------------

HIKS.